Sabtu, 29 April 2017

REALITAS BERAGAMA DENGAN LOGIKA




AGAMA adalah pedoman perilaku bagi umat manusia agar berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang tidak baik. Agama, ketika tertulis dalam bahasa aslinya, merupakan agama murni. Namun terjemahan dan tafsirnya, bisa berubah dari waktu ke waktu. Sebab, terjemah atau tafsir dilakukan oleh manusia. Karena manusia penerjemah dan penafsir kemampuannya tidak setingkat nabi, bisa saja terjemah dan tafsirnya menjadi keliru atau lebih buruknya lagi sengaja dikelirukan dengan tujuan tertentu. dan dalam perjalanan sejarah mejadi banyak ragam agama. Secara umum agama Yahudi ada 71 golongan, agama Nasrani ada 72 golongan dan Islam ada 73 golongan. refrensi jumlah golongan itu dari data, sementara saya sendiri tidak tahu data yang sebenernya karena golongan yang sebenernya bisa lebih banyak.

Walaupun agama merupakan pedoman berperilaku baik dan menghindarkan perilaku buruk, namun faktanya banyak umat beragama yang berperilaku buruk, baik dalam bentuk pikiran, tulisan, ucapan maupun tindakan. Agama menjadi terlihat salah karena perilaku pemeluknya yang sudah keluar dari rel atau malah menambah rel sendiri.

Bahasa asli kitab suci tidak mungkin salah . Namun bahasa terjemah bisa saja salah. karena kualitas terjemah tergantung kualitas sipenerjemah. Tergantung kualitas wawasan berpikir (IQ), pengalaman hidup, kemampuan menerjemahkan penguasaan bahasa,kemampuan berlogika dan kepentingan prioritas. maka dari itu terjemahan semua agama masih bisa memiliki kemungkinan potensi yang salah.

Munculnya sikap sok suci. Suka membanggakan gelar agamis, merasa dari turunan terbaik dalam beragama dan merasa ilmunya lebih banyak dalam agama adalah keburukan berikutnya selain kemungkinan salah menterjmahkan kitab suci, karena memiliki sikap ini menyebabkan kebenaran sejati sulit sekali untuk memasuki diri.

Effect dari sok suci berlanjut menjadi Tidak mau menerima pendapat yg benar dari orang lain ,cara berpikirnya banyak yang sempit seperti katak dalam rempurung. jika diberitahu caranya berpikir salah, ucapannya salah dan perbuatannya salah, seringkali mereka langsung membantah tanpah mencerna terlebih dulu. Bahkan secara langsung tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar. Semua pendapat yang menghujam dan tidak sesuai dengan pendapatnya dianggap salah.

Effect berantai selanjutanya adalah perilaku buruk sebagian umat beragama adalah tidak mau mengakui kesalahan. kalau dikoreksi, langsung reaktif membela diri. Langsung melakukan pembenaran-pembenaran (justifikasi). Apa yang dilakukan tidak mungkin salah.

masih ada lagi effect berantai selanjutnya yaitu berupa perilaku toleransi yang rendah. bahkan bisa dikatakan dengan kasarnya tidak mempunyai rasa toleransi sama sekali. Jika berhadapan dengan golongan yang tidak sepaham dengannya, maka dimusuhi dan bahkan jika perlu disingkirkan, diusir atau bahkan diperlakukan secara anarki. atau lebih parah di cap KAFIR.

Guru adalah seseorang yang harus kita hormati akan tetapi dalam belajar agama menganggap semua ucapan guru agama benar,lebih benar,paling benar dan selalu benar itu sangat disayangkan, coba kita renungkan secara harfiah guru juga seorang manusia tempatnya benar dan salah serta mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam dirinya. celakanya adalah. hampir sebagian metode pengajaran agama apapun di dunia ini adalah metode dogmatis. Terima saja saja dan anggap saja itu benar. jangan dirasionalkan dan dilogikakan. Sehingga akibatnya apa yang dikatakan guru agamanya adalah benar, pasti benar, lebih benar, paling benar dan bahkan selalu benar hingga hari kiamat.

Sebagian ajaran guru agama yang salah adalah agama tidak bisa dilogikakan. Bukankah agama merupakan pedoman perilaku yang benar dan perilaku yang salah. Bukankah baik dan buruk intinya adalah norma? Bukankah benar dan salah dasarnya ada pada ilmu logika?

Logika manusia kebenarannya berdasarkan fakta,realita dan etika. Logika alam kebenarannya berdasarkan hukum sebab akibat. Sedangkan logika Tuhan tingkat kebenarannya hanya diketahui oleh Tuhan.

Belajar ilmu agama tanpa belajar ilmu logika secara sempurna hanya akan menghasilkan umat beragama yang tidak mampu bernalar secara benar dan Cenderung selalu menyalahkan pendapat orang lain.

Mudah2an tulisan diatas banyak salahnya sehingga saya bisa belajar lebih banyak lagi, kalau ada yang benar didalamnya semoga bisa diambil manfaatnya.

Saya juga tidak pandai menulis, jadi pasti ada kemungkinan salah tanda baca atau antara paragraf satu dan lainnya tidak ada beraturan, Mohon dimaafkan.

Semboyan LOGIKA " dengan logika maka akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman dan menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi"  [ semboyan didapat dari

Kamis, 27 April 2017

Bisikan-Bisikan Hati Dalam FirmanMu



Ada sebuah tenpat di mana kata-kata menjadi sunyi
di mana bisikan-bisikan hati muncul tak tertabiri
Ada sebuah tempat di mana suara menyanyikan keindahanmu
sebuah tempat di mana setiap nafas memahat dirimu di jiwaku....